Hotel Artemis: Rumah Sakit Kriminal Para Penjahat

Pada penghujung tahun 2018, terdapat banyak film Hollywood yang tayang di bioskop-bioskop tanah air. Salah satu film yang tayang pada akhir November 2018 yaitu Hotel Artemis. Film berdurasi sekitar 1 jam 34 menit ini merupakan film garapan sutradara Drew Pearce dengan naskah yang dikerjakannya sendiri. Film ini merupakan film berbudget sedang dengan genre thriller fiksi ilmiah. Film ini mencoba hadir diantara film-film Hollywood lainnya yang berbudget tinggi dengan menampilkan gaya dan caranya tersendiri. Dimana dalam film ini banyak terdapat intrik dan beberapa adegan cerdik di satu sisi dan adegan-adegan yang menampilkan keputusasaan di sisi lainnya.

Hotel Artemis Dipimpin Oleh Seorang Perawat

Dalam film tersebut diceritakan bahwa Hotel Artemis merupakan sebuah gedung yang beroperasi sebagai rumah sakit illegal. Hotel ini merupakan salah satu rumah sakit gelap yang hanya melayani para kriminal yang membutuhkan bantuan penanganan medis. Hotel yang beroperasi sebagai rumah sakit ini dipimpin oleh seorang perawat bernama Jean Thomas atau biasa disebut dengan The Nurse.

The Nurse ini merupakan orang yang bertanggungjawab dalam menggunakan peralatan yang berteknologi sangat canggih untuk mengobati para penjahat agen poker online yang terluka. Selain itu, peralatan ini juga dapat digunakan untuk memperbaiki ataupun menyembuhkan para kriminal tersebut. Dalam menjalankan kegiatannya sendiri, perawat ini dibantu oleh seorang partner setia yang bernama Everest.

Jean Thomas yang merupakan pemilik gedung yang dioperasikan sebagai tempat tinggal, tempat menginap ataupun rumah sakit ini mempunyai suatu aturan dalam menjalankan kegiatan dalam gedungnya ini. Ia akan mengobati dan menyembuhkan siapa saja yang terluka dari manapun tempat berasalnya, asalkan mereka mempunyai kode untuk masuk ke dalam dan mematuhi peraturan yang ada. Dalam aturan yang dia buat, dia akan melayani pasien tersebut apabila tidak membawa senjata, bukan merupakan anggota polisi, dan tidak membunuh pasien lainnya.

Merupakan Tempat Bersarangnya Penjahat Dan Kriminal

Hotel Artemis merupakan tempat bersarangnya penjahat yang sedang mengalami luka ataupun cidera dan sebagainya. Dalam gedung ini, terdapat berbagai macam penjahat dengan berbagai karakteristik sikap dan tingkah laku yang menyertainya. Dengan demikian, hotel ini merupakan salah satu tempat berkumpulnya penjahat di kota Los Angeles.

Kemudian pada suatu malam, hotel tersebut berkapasitas penuh dengan pasien para penjahat, sehingga menyebabkan The Nurse dan partnernya harus berurusan dengan berbagai macam jenis tamu tersebut. Berbagai macam penjahat yang membutuhkan pertolongan medis bersarang disana, mulai dari dealer senjata lengkap, pembunuh bayaran, perampok bank, mafia, dan lain sebagainya.

Meskipun The Nurse telah mempunyai aturan yang tegas, dengan bercampurnya berbagai macam penjahat tetap saja memicu terjadi konflik. Apalagi salah satu dari penjahat-penjahat tersebut diketahui mempunyai barang yang sangat berharga yang ikut dibawa masuk ke dalam hotel tersebut. Dengan demikian, ketegangan dalam hotel tersebut sangat mencekam.

Sekilas tentang film yang dibuat oleh sutradara Drew Pearce tersebut. Film ini membawa suatu alur cerita dan plot yang membuat penasaran sekaligus tegang pada saat yang bersamaan. Dengan skenario yang cukup bagus untuk kualitas film kelas budget sedang, film ini menampilkan gaya visualisasi yang cukup menarik dan memanjakan mata penontonnya.

Ber-Setting Masa Depan

Kisah dalam film yang berjudul Hotel Artemis ini berlatar pada masa depan, tepatnya pada tahun 2028. Pada tahun tersebut terdapat kerusuhan yang menyebar di daerah-daerah di Los Angeles. Kerusuhan tersebut terjadi karena adanya privatisasi perusahaan-perusahaan air. Dari asal mula terjadinya kerusuhan tersebut, pemberontakan dan kejahatan semakin meningkat. Sehingga terdapat berbagai macam kriminalitas yang terjadi dalam kota tersebut. Selain itu, dengan adanya kerusuhan tersebut membuat bertambahnya jumlah penjahat yang berada dalam kawasan tersebut.

 

Review AMan Called Ahok

Review AMan Called Ahok

Review AMan Called Ahok, Siapa yang sudah tidak sabar menyaksikan salah satu film yang fenomenal karena bercerita tentang mantan Gubernur DKI

Jakarta yang fenomenal juga, BTP (Basuki Tjahaja Purnama) atau yang kerap disapa Ahok? Jika digambarkan, pepatah

yang menyebutkan bahwa ‘Air Cucuran Atap Jatuhnya ke Pelimbahan Juga’ tampak amat cocok dengan penggambaran film tersebut.

Tak Ceritakan Politik Mengenai Review AMan Called Ahok

Sepanjang durasi 102 menit, film A Man Called Ahok ini mengisahkan peran yang istimewa bertema keluarga, khususnya

sang ayah dalam film ini. juga untuk membentuk karakter pria bernama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ini, film ini patut disaksikan.

Sosok mantan gubernur DKI Jakarta ini memang mempunyai pesona yang sangat kuat di masyarakat Indonesia, apalagi

Jakarta. Hampir seluruh masyarakat di penjuru Indonesia pastinya tahu bagaimana sepak terjang Ahok, atau minimal

pernah mendengar tentang nama ini. selain karena film ini berasal dari ras minoritas yang sering menjadi sorotan dalam

semesta politik Indonesia, Ahok juga kerap kali tampil blak-blakan dan juga sarat dengan keputusan-keputusan yang sangat kontroversional.

Akan tetapi, jangan anda berharap menyaksikan sebuah tontonan politik dalam film A Man Called Ahok ini.

Ketimbang fokus pada kisah politik Ahok yang ‘panas’, film ini malahan lebih berfokus pada masa kecil Ahok dan juga

keluarganya yang ada di Belitung Timur. Film dengan genre drama keluarga tersebut bakal memusatkan ceritanya togel online pada dua karakter yang spesial yaitu Ahok sendiri serta ayahnya yaitu Kim Nam.

Genre: Drama Keluarga Review AMan Called Ahok

Kalau kita berbicara tentang garis besarnya dari film ini, bisa dikatakan A Man Called Ahok ini bercerita tentang cara didik

dari Kim Nam pada Ahok dan juga adik-adiknya. Ia juga merupakan seorang pengusaja timah yang tinggal di Belitung Timur

yang bisa dikatakan cukup terpandang, akan tetapi hal ini tidak membuat dirinya lantas ‘lembek’ pada anak-anaknya.

Tidak Cuma dikenal sebagai ‘tauke’ atau bos besar, Kim Nam juga dikenal sebagai pengusaha yang dermawan yang sering

membantu masyarakat yang ada di sekitar. Kebaikan ini lah yang selalu ingin ditanamkan oleh Kim Nam pada semua anaknya.

Apa yang akan memancing emosi anda di film ini? Review Aman Called Ahok

bukan lah lika-liku politik, namun cara mendidik Kim Nam malahan.

Emosi ‘gado-gado’ penonton hadir di sana, mulai dari gelak tawa, rasa sedih, bahagia, frustasi sampai dengan haru akan

muncul langsung. Hal ini dikarenakan penonton disuguhi bagaimana terciptanya hubungan benci namun cinta antara Ahok dan Kim Nam.

Karena menyoroti tokoh yang berasal dari keturunan Tionghoa, maka budaya Tionghoa pun dieksekusi juga dalam A Man

Called Ahok ini. namun eksekusinya tak berlebihan yang ujung-ujungnya akan jatuh pada stereotype. Penggunaan Bahasa

Khek yang tak dibuat-buat dan pemunculan budaya yang khas sekali Tionghoanya seperti misalnya tingginya harga diri dan

juga gaya bicara yang blak-blakan jadi nilai plus untuk film yang digarap oleh Putrama Tuta tersebut.

Film ini sangat apik dalam hal memanfaatkan momen magis antara anak dan orangtua. Ada banyak sekali dialog yang

mengharukan yang dibangun oleh anak dan orang tua untuk menunjukkan arti dari kasih sayang yang tak selalu dalam

bentuk ‘manisan’. Akan tetapi sayangnya petuah dan juga kata-kata bijaksana lebih banyak disampaikan lisan namun penggambaran adegannya belum cukup.

Jika diibaratkan, tempo awal A Man Called Ahok ini sedang, tapi setelah karakter Ayah meninggal, temonya langsung terasa lompat dan cepat sekali berlalu. Penasaran dengan film ini?